Share :  

I. NYANYI SEBAGAI BAGIAN IBADAH

Banyak orang belum sadar bahwa menyanyi memuji-muji Tuhan adalah bagian dari ibadah. Ini bukan spesialisasi bagi orang-orang yang bisa menyanyi atau berbakat, tetapi ini adalah bagian ibadah dari semua orang percaya, juga yang tidak bisa menyanyi dengan betul. Sebab itu orang percaya wajib memuji-muji Tuhan dengan segenap hatinya kepada Tuhan. Menyanyi memuji-muji Tuhan adalah ibadah, sebab:

  1. Diperintahkan Tuhan, dikehendaki Tuhan Maz 150:6. Semua yang masih hidup, hendaklah memuji-muji Tuhan dengan segenap hati. Baik orang ini masih kanak-kanak, maupun sudah tua, pokoknya semua yang masih hidup, hendaklah memuji Tuhan sebagai ibadahnya, ini diperkenan Tuhan. Ini wajib untuk semua orang di seluruh dunia, bukan hanya di negara-negara tertentu yang mahir dan suka menyanyi, tetapi di seluruh dunia pujilah Tuhan Maz 100:1.
  2. Penilaian Tuhan bukan bagus suaranya tetapi bagus hatinya. Kita harus memuji Tuhan dengan segenap hati Maz 9:2. Tuhan menilai puji-pujian itu bukan dari kebagusan suaranya tetapi dari kesungguhan hatinya. Dengan segenap hati berarti:
    1. Hatinya benar di hadapan Tuhan
    2. Nyanyi keluar dari hati Mat 15:7-8 bukan hanya di mulut. Puji-pujian yang keluar dari hati sekalipun suaranya kurang bagus atau vals (sumbang) salah, tidak menjadi masalah bagi Tuhan. Dia menghargai pujian yang keluar dari hati, di dalam telinga Tuhan itu seperti musik hati yang merdu Ef 5:19. Kalau Tuhan hanya menghargai nyanyian yang merdu indah dan musik yang bagus, Ia menjadi tidak adil, sebab hanya sebagian orang yang bisa menyanyi dengan merdu atau ahli, berbakat main musik. Tuhan itu adil. Yang penting bagi Tuhan adalah nyanyian yang keluar dari hati, dengan segenap hatinya. Jadi bagusnya suara atau indah bentuk lagunya itu tidak penting bagi Allah. Sebab tidak semua orang bisa menyanyi bagus, juga bentuk lagu di Jepang, Cina, Indonesia, India, Arab, Eropa, dll itu tidak sama, tidak apa-apa, tetapi yang penting adalah arti kata-kata yang dinyanyikan, yang keluar dari hati itu berkenan pada Tuhan dan itu yang penting bagi Tuhan. Untuk telinga manusia, yang penting dan menyenangkan adalah suara dan nyanyian yang merdu. Tidak ada orang suka mendengar nyanyian yang sumbang dan tidak enak. Tetapi untuk telinga Tuhan, suara yang merdu boleh ada, boleh tidak, sebab yang mutlak perlu adalah hati yang memuji dan menyembah Tuhan dengan benar (lebih-lebih di dalam Roh), itu berkenan pada Tuhan. Kebaktian kita itu seharusnya menjadi acara bagi Tuhan, sebab itu yang penting adalah jemaat menyanyi keluar dari hati (hati yang berkenan kepada Tuhan), ini ibadah kepada Tuhan; merdunya suara dan indahnya musik itu nomer 2, tidak wajib (tetapi kalau bisa nyanyi dengan baik dan merdu tentu lebih baik, berkenan kepada Tuhan dan manusia). Seringkali kebaktian menjadi acara bagi manusia yang datang. Orang-orang mencari acara yang bagus, show yang bagus bagi telinga manusia. Kalau jemaat tidak menyanyi dengan hati yang benar kepada Tuhan, berarti waktu puji-pujian tidak ada ibadah kepada Tuhan! (atau hanya sebagian, oleh orang-orang yang hidup benar, berkenan pada Tuhan). Kebaktian itu apakah diatur menjadi acara bagi orang-orang yang datang atau acara atau ibadah kepada Tuhan? Meskipun ada koor atau penyanyi-penyanyi yang indah dan betul, tetapi kalau jemaat tidak beribadah, tidak ada acara bagi Tuhan, hanya bagi telinga-telinga manusia. Kalau jemaat menyanyi dengan segenap hati atau memuji-muji Tuhan itu acara bagi Tuhan, ibadah bagi Tuhan, maka Tuhan akan turun dalam nyanyian ibadah umat-Nya Maz 22:4. Waktu Paulus dan Silas menyanyi dalam penjara, itu bagi Tuhan, bukan untuk telinga-telinga manusia. Keadaan mereka sama sekali tidak ideal untuk menyanyi, sebab mereka (1) habis dipukuli habis-habisan, masih kesakitan, (2) dalam keadaan di belenggu, (3) sebagai orang tahanan, (4) mereka berada diantara orang banyak yang tidak dikenal, (5) orang asing di negeri Filipi dll Mungkin juga Paulus tidak ahli nyanyi, apalagi keadaannya sama sekali tidak cocok untuk mempersembahkan nyanyian yang bagus, tetapi ia dan Silas menyanyi dengan segenap hati, dan heran, Tuhan turun di atas puji-pujiannya, Tuhan berkenan akan ibadah mereka dan Ia melakukan hal-hal besar Maz 22:4. Timbul gempa yang terarah, mereka terlepas dan Gereja Pilipi dibangunkan, luar biasa.
  3. Korban puji-pujian Ibr 13:15, Yer 17:26, 33:11. Israel beribadah dengan mempersembahkan korban sembelihan, domba, kambing atau sapi. Itu ibadah dan korban mereka kepada Tuhan. Tetapi kalau kita menyanyi dengan segenap hati, itu lebih dari korban sembelihan Maz 69:31, 32. Ini korban sembelihan dan ibadah kita kepada Tuhan. Di Surga tidak lagi ada korban puji-pujian, itu hanya bisa kita persembahkan di dunia! Waktu kita mengalami kesukaran dan penderitaan seperti Paulus dalam penjara, kita tetap menyanyi: Allah itu baik, Allah maha kuasa, kita nyanyi dengan iman, itu suatu pengorbanan. Meskipun sakit dan menderita karena Tuhan, kita tetap memuji-muji Tuhan seperti Ayub Ayb 1:21; 13:15. Ini korban persembahan seperti korban sembelihan lembu muda. Di Surga kita tidak pernah menderita lagi, semua sangat ideal dan indah, kita memuji-muji Tuhan bukan karena menderita, tetapi sebab kita menikmati kebesaran-Nya. Di Surga tidak ada salib, tidak ada penderitaan karena Tuhan, tidak ada korban, itu hanya ada di dunia, begitu juga korban puji-pujian hanya ada di dunia dan ini ibadah yang sangat berkenan kepada Tuhan. Berilah korban puji-pujian kepada Tuhan Allah kita, juga korban syukur. Semua korban itu ada pahalanya, bahkan itu mengolah kita sehingga makin tumbuh dalam kemuliaan Allah Rom 8:17,18.

II. NYANYIAN ITU NETRAL

Dengan nyanyi kita bisa memuji Tuhan atau nyanyian-nyanyian netral untuk pendidikan, ekspresi kesukaan, penghiburan, lagu-lagu nasional dll, dan juga bisa memuji iblis yaitu semua nyanyian yang menyalakan dosa, misalnya hawa nafsu kedagingan seperti nafsu perzinaan, kesukaan dunia, kebencian bahkan menyembah berhala dan setan-setan. Iblis mempunyai banyak andil dan pengaruh dalam nyanyian. Lucifer diciptakan dengan musik dalam dirinya Yeh 28:13c Terj. lama dan KJV (dalam Terjemahan baru tidak disebutkan). Pada waktu Lucifer, diciptakan, termasuk kemahiran tamborine dan organ (pipa). Ini berasal dari kemahiran yang dibuat Allah, sangat mahir, mungkin paling top. Pada waktu ia jatuh, ia masih mempunyai beberapa kemahiran-kemahiran tertentu, termasuk ini dan ia banyak memakainya di dalam penyesatannya. Sebab itu tidak heran kalau kita melihat penyesatan dari iblis itu banyak dalam musik dan nyanyian. Beberapa banyak umat Tuhan tidak sadar dan mereka hanyut dalam musik dan nyanyian yang sebetulnya dikendalikan oleh iblis, mereka menyalakan bermacam-macam nafsu dosa. Dari permulaan, yaitu turunan Kain, Iblis sudah mendorong mereka memakai alat musik untuk merangsang dan menuruti daging mereka Kej 4:21. Dalam beberapa nyanyian dan musik yang menarik banyak orang, seringkali bukannya Roh Allah yang hadir Maz 22:4 tetapi roh-roh najis dan jahat yang hadir. Ini bisa merasuk orang-orang yang menyukai dan mengaguminya (transfer of the spirit) sehingga kemudian menghasilkan perbuatan dosa yang limpah di dalam orang-orang itu. Jadi Lucifer itu adalah musician surgawi, ia penuh dengan musik dalam dirinya, sehingga ia begitu mahir dan indah dalam musik Yeh 28:13 (KJ, TL), yang memakainya untuk dosa dan untuk menyeret manusia dalam dosa. Sebab itu dalam dunia banyak musik nyanyian yang penuh dengan dosa, dengan kata-kata yang vulgar, merangsang, dalam segala segi hidup manusia. Jadi musik nyanyian bisa dipakai sebagai ibadah kepada Allah dan juga sebagai ibadah kepada iblis. (seperti Yehuda menyembah Allah di bait-Nya, Israel menyembah iblis lewat berhala-berhala lembu emasnya di Dan dan Betel). Orang-orang di jalan lebar memakainya untuk melazatkan daging dan sadar atau tidak, langsung atau tidak langsung, mereka menyembah iblis dalam dosa dan kedagingannya. Sebab itu kita harus memakai nyanyian dan musik dengan betul sebagai ibadah kita kepada Tuhan Allah, jangan hanya sebagai acara untuk telinga-telinga kita sendiri, atau untuk menyenangkan orang banyak apalagi untuk menyembah setan dengan melazatkan daging. Hanya Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus yang patut dipuji dan disembah, bukan nama yang lain, bukan iblis, hanya Tuhan Yesus Kristus yang boleh dan patut disembah.

III. MUSIK HATI

Ef 5:19 Berkata-katalah satu sama lain  dengan mazmur, nyanyian pujian dan nyanyian-nyanyian rohani, nyanyi-lah dan bunyikan musik di dalam hatimu kepada Tuhan. (KJI) Musik dalam Perjanjian Baru sama sekali tidak pernah ditonjolkan, tidak diminta (apalagi dituntut Tuhan). Hanya dalam Wasiat Lama dimana ibadah secara lahiriah (seperti memakai pakaian putih, pakai pedupaan dll diperlukan sebagai bagian dalam ibadah lahiriah) tetapi dalam Wasiat Baru, ibadahnya sudah secara rohani, dan musik itu sudah ada di dalam orang yang penuh dan dipimpin Roh, di dalam dirinya. Ini sama seperti Lucifer yang diciptakan Allah, di dalam dirinya ada musik (sebelum kejatuhan) Yeh 28:13. Juga dalam orang-orang yang lahir baru, apalagi yang penuh dan dipimpin Roh, ada musik hati dan ini yang penting di hadapan Allah. Kalau kita dipimpin Roh, waktu kita menyanyi dan menyembah Tuhan, timbul musik hati yaitu pekerjaan Roh Kudus yang menyebabkan kita bisa menyanyi dengan betul sebagai ibadah dan persembahan kepada Tuhan, dengan sukacita dari Tuhan, sehingga di dalam nyanyian dan penyembahan itu kita berkenan pada Tuhan. Musik hati adalah pengurapan Roh Kudus pada waktu orang-orang yang benar, yang dipimpin Roh memuji dan menyembah Allah sebagai suatu ibadah, persembahan dan korban puji-pujian. Ini menarik hadirat Allah turun, sehingga seluruh jemaat diberkati dengan indah. Musik lahiriah itu tidak mutlak perlu; dalam seluruh Wasiat Baru tidak pernah dituntut diminta atau dianjurkan memakai musik (hanya dalam perumpamaan dan di Babel Luk 5:32; 15:25, Wah 18:22) sebab sudah ada musik hati yang ada dalam orang-orang yang dipimpin Roh. Mereka yang menyanyi dalam Perjanjian Baru, tidak disebutkan dengan musik Mat 26:30, Kis 16:25. Meskipun begitu kalau orang-orang benar memuji Tuhan dengan musik, apalagi dalam pengurapan Roh Kudus, itu menjadi indah, bukan karena musiknya, tetapi karena pengurapan Roh Kudus di atas orang yang bermain musik. Musik juga bisa menjadi ekspresi orang-orang suci seperti nyanyian untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya. Sebab itu orang-orang yang bermain musik juga harus hidup benar, berkenan kepada Allah, baru Allah berkenan. Musik dari orang yang tidak bertobat itu tidak berkenan kepada Tuhan sekalipun indah dan enak di telinga orang, tetapi itu najis dan keji dalam telinga Allah seperti dalam ayat-ayat berikut Yes 1:15, Ams 15:8, 28:9, Maz 109:7. Kalau ada musik hati, kita bisa begitu sukacita dalam menyanyi, memuji dan menyembah Tuhan, ada kegirangan dan pengurapan Tuhan karena hadirat Tuhan nyata dalam kita Maz 16:11. Sebab itu musik tidak mutlak perlu, juga segala peralatan musik dan sound system itu kalau ada lebih baik, tetapi kalau kurang atau tidak ada (kita harus berpada) kita tidak perlu merasa terganggu atau cacat dalam ibadah puji-pujian kita kepada Tuhan. Tetapi untuk telinga dan perasaan manusia yang peka akan seni musik, ini ikut menggerakkan dan menyenangkan hatinya. Kalau musiknya jelek, itu mengacaukan hatinya, apalagi bagi orang-orang yang ahli musik tetapi kurang (tidak) mengerti kebenaran Firman Tuhan tentang puji-pujian dan ibadah. Musik yang baik lebih-lebih kalau dimainkan oleh orang-orang yang diurapi Roh Kudus, itu bisa mengajak orang lain ikut memuji-muji Tuhan, beribadah kepada-Nya Maz 34:4. Tetapi hasil seni itu lain dari hasil pekerjaan Roh Kudus. Setiap orang yang mahir main musik (dan menyanyi) bisa menggerakkan dan menjamah hati para pendengarnya karena seni musik yang bagus, tetapi ini belum tentu disertai Roh Kudus.

IV. NYANYIAN DALAM JALAN LEBAR

Mungkinkah orang memuji dan menyembah Tuhan tetapi hatinya penuh dengan dosa atau roh najis? Mungkin sebab:

  1. Ini orang-orang munafik, yang memuji Allah hanya dengan bibirnya saja, tetapi hatinya jauh dari Tuhan, penuh dengan roh-roh jahat Mat 15:7-8, Yes 29:13. Ini cukup banyak terjadi, ini orang-orang Kristen yang mahir memuji dan menyembah Tuhan, bahkan menjadi pemimpin, song leader tetapi hidupnya dalam kubangan dosa.
  2. Ini seperti orang Farisi yang hanya bisa mengajar dengan baik dan lengkap tetapi hidup najis, tidak mau melakukan apa yang diajarkannya sendiri Mat 23:3-5. Begitu orang-orang yang dengan mulutnya memuji dan menyemabh Tuhan tetapi hidupnya tidak sesuai dengan mulutnya, tidak pernah melakukannya yang dinyanyikannya. Dari buah-buah hidupnya kita bisa melihat apakah pohonnnya itu jahat atau tidak! Kalau hidupnya tidak berkenan pada Allah sekalipun nyanyian dan penyembahannya hebat, itu bukan hamba Allah Mat 7:16-20.
  3. Memakai api yang lain Im 10:1-2. Tidak semua orang yang tampak bergairah, berapi-api itu berkenan kepada Tuhan, sebab ada sebagian orang yang memakai api yang lain, yaitu api hawa nafsu daging atau percabulan, atau api mammon, api sombong dan popularitas, api tidak mau kalah dsb. Mereka ini akhirnya jatuh dalam dosa-dosa, bahkan yang keji dan kemudian mati (rohani) dengan sangat mengerikan, seperti Nadab Abihu yang memakai api lain. Begitu juga orang-orang ini memuji dan menyembah Tuhan dengan heran, gairah, indah tetapi dengan api yang lain, biasanya juga di-backing-i dengan kemahiran seni suara dan seni musik atau dengan daya tarik lainnya.
  4. Setan berperan dalam Gereja seperti Gereja Pergamus. Liturgi dan acara ibadahnya seperti Gereja-gereja pada umumnya, tetapi roh yang mengerjakannya adalah iblis dan setan-setan. Ada macam-macam roh jahat (semua bisa) yang mendorong orang itu sehingga tampaknya berapi-api, tetapi sebetulnya palsu, penuh dengan roh setan.

Hal-hal seperti ini bisa terdapat dalam Gereja-gereja dan orang Kristen, lebih-lebih dalam Gereja jalan lebar yang makin banyak di akhir zaman seperti yang dinubuatkan dalam Wahyu 2 dan 3! Sebab itu kita jangan sampai hanyut dalam acara-acara rohani yang tampaknya indah, tetapi sebetulnya digerakkan oleh orang-orang yang tidak bertobat, yang hidup dalam dosa, bukan oleh Roh Kudus. Minta karunia-karunia Roh untuk bisa membedakan roh-roh yang bekerja dalam suatu band, Gereja atau acara-acara netral yang lain.

KESIMPULAN

Memuji Tuhan itu bisa menyenangkan telinga Allah (ini ibadah kepada Allah) sebab menyanyi dengan segenap hati yang berkenan kepada Dia. Memuji Tuhan itu juga bisa hanya menyenangkan telinga orang-orang yang mendengar, ini show seperti yang biasa di dalam dunia, bukan ibadah kepada Tuhan tetapi acara untuk menarik orang banyak. Seharusnya kebaktian-kebaktian kita itu bukan menjadi acara show, tetapi suatu ibadah kepada Allah yaitu seluruh jemaat memuji-muji Tuhan dengan segenap hatinya, baik dengan nyanyian yang merdu atau kurang merdu, tetapi karena hatinya menyembah Tuhan dalam puji-pujian, itu menjadi suatu ibadah yang berkenan kepada Tuhan dan Dia turun di tengah puji-pujian umat-Nya yang mempersembahkan korban puji-pujian. Semua yang main musik, singer, pemimpin puji-pujian, paduan suara dll biarlah juga menaikkan korban pujian sekaligus mengajak seluruh jemaat ikut memuji-muji Tuhan Maz 34:4, bukan hanya menjadi penonton yang menikmati show. Biar setiap acara nyanyian dalam Gereja, baik dari paduan suara, dari team musik atau dari jemaat, semua menjadi ibadah yang berkenan kepada Tuhan, semua sama-sama menyembah Allah dengan segenap hati dan mulutnya, sebagai korban puji-pujian dengan iman dan musik hati, dengan kebenaran dan pengertian di dalam Roh. Kalau acara puji-pujian menjadi ibadah kepada Allah, maka Tuhan akan hadir dan memberkati seluruh sidang seperti dalam Kisah Rasul 16:25, 2 Tawarikh 20:26, Roh Kudus akan bekerja, iblis dihancurkan dan dengan Tuhan kita akan melakukan perkara-perkara yang besar untuk Tuhan.

Nyanyian

Memuji Tuhan selalu, semua yang masih hidup 2x Puji 2x, s'mua yang hidup puji Dia Puji 2x, pujilah Tuhan Yesus