Share :  

I. DEFINISI

Hamba yang setiawan, sebagai hamba milik Allah kita tetap setia, tetap taat akan Firman Tuhan kepada Tuhan dan tubuh Kristus, dalam segala keadaan sampai mati. Orang yang setia sebab cinta Tuhan, maka dalam kesetiaannya itu ia berani berkorban dengan rela dan sukacita menyangkal diri, tetap lekat dengan Tuhan, baik dalam susah atau senang, tidak berubah, tetapi tetap cinta Tuhan dengan tulus.


Gambar OHP setia, orang mengikatkan dirinya pada gunung batu.


Setia itu lebih penting dari prestasi.

Di dunia terbalik, yang dihargai prestasinya, sekalipun orang itu tidak setia; Misalnya pegawai yang baru lompat dari tempat atau usaha yang lama, karena gaji yang lebih tinggi, artinya tidak setia pada yang lama, pindah dan diterima di tempat yang baru, bisa diterima, tidak apa-apa asal prestasinya tinggi.

Orang beriman kalau mau pindah pekerjaannya, harus bertanya-tanya Tuhan lebih dahulu sebelum mengambil keputusan, sebab meskipun biasa di dalam dunia, tetapi kita tetap harus setia dalam batas-batas yang diizinkan Firman Tuhan. Tuhan tahu kebutuhan kita dan Tuhan tahu yang akan datang, minta pimpinan Roh Kudus untuk segala keputusan dan tindakan kita. Boleh pindah kerja, tetapi jangan terburu-buru, bertanya-tanya akan Tuhan lebih dahulu dan minta pimpinan-Nya.

Ada orang yang tua (60 tahun) gajinya tidak naik, tetapi ia tetap setia. Pada satu saat terjadi kerusuhan, ia membela perusahaannya dengan menutup pintu gerbang dan tindakan-tindakan keamanan lainnya sehingga perusahaan selamat. Waktu pemiliknya mengetahui hal ini, ia diberi hadiah sepeda motor dan gajinya dinaikkan.

Juga di pengadilan orang yang tidak setia tidak bisa dihukum, bahkan suami dan istri yang tidak setia lagi bisa dipisahkan, cerai dan tidak kena hukuman.

Di hadapan Tuhan, setia itu lebih penting dari prestasi, bahkan orang yang tidak setia sekalipun prestasinya tinggi, ditolak, bahkan dihukum karena tidak setia Mat 7:23. Orang-orang ini mengandalkan prestasinya, mereka tidak peduli kesetiaannya pada Tuhan untuk mentaati Firman Tuhan, sebab itu mereka ditolak sebab tidak setia kepada Tuhan.

Ada banyak kerugian atau kerusakan rohani yang terjadi kalau seorang tidak setia kepada Tuhan (tidak taat akan Firman Tuhan), ini menjadi dosa dan akhirnya dihukum.

Prestasi tetap perlu tetapi kesetiaan itu lebih besar nilainya. Mengapa? Sebab setia persembahan itu dari diri kita sendiri tetapi prestasi itu diberi Tuhan, misalnya menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, melakukan mujijat dan lain-lain itu semata-mata dari Tuhan, dikerjakan Tuhan lewat orang itu.

Ada anak menjemput orang tuannya dengan mobil bagus, orang tuanya biasa-biasa saja, sebab orang tuanya yang membelikan mobil itu, bukan anaknya.

Begitulah segala kuasa, hikmat, mujijat itu dari Tuhan tetapi setia itu dari masing-masing kita sendiri dan itu indah di hadapan Tuhan. Dipakai heran untuk Tuhan dengan tulus itu bagus, tetapi sebagai dasarnya harus ada hidup yang suci dan tulus dan juga setia kepada Tuhan dan ini termasuk setia kepada keluarganya, Gerejanya, pelayanannya dan juga dalam pekerjaan sekuler dan lain-lain, dalam batas-batas yang sesuai dengan Firman Tuhan.

II. UKURAN DAN MUTU KESETIAAN

Ukuran dan macam kesetiaan kita harus sesuai dengan Firman Tuhan dan terus sampai mati.

Mutu kesetiaan kita harus seperti Allah 2Tim 2:13. Dalam kesetiaan itu ada dua pihak. Meskipun satu pihak yaitu manusia tidak setia, pihak Allah tetap setia, untuk selama-lamanya.

Ukuran mutu kesetiaan kita (yang diperkenan Tuhan) itu harus seperti Firman Tuhan. Misal setia kawan, sekalipun sudah berjanji dengan kawan atau dengan berhala, tetapi hubungan dengan perkara-perkara yang salah tetap harus diputuskan sekalipun untuk pihak iblis dan dunia dianggap tidak setia, tetap harus putus. Taat akan Firman Tuhan itu harus diatas segala perkara dan itu harus terus sampai mati Fil 2:8.

Setia itu bukan hanya waktu senang tetapi juga waktu susah bahkan dalam keadaan apapun juga. Dalam dunia, dalam keadaan-keadaan terpaksa atau darurat orang bisa mengambil tindakan-tindakan darurat dan oleh dunia hal ini dibenarkan karena sikonnya.

Misal Sadrakh cs sendirian dan dalam keadaan terpaksa, karena keadaan darurat mereka boleh ikut menyembah patung Nebukadnezar, tetapi itu tetap salah di hadapan Tuhan. Mereka mengerti hal ini sebab itu meskipun harus mati mereka tetap tidak menyangkal Tuhan. Sekalipun keadaan terpaksa atau darurat, sehingga mereka harus dilempar dalam api mereka tetap setia kepada Tuhan. Mengapa? Sebab bagi Allah tidak ada keadaan darurat, Tuhan tetap menguasai segala sikon. Sebab itu tidak ada kebetulan atau darurat bagi umat Tuhan.  Sebab itu kita tetap harus taat pada Firman Tuhan dalam segala keadaan Dan 3:18.

Justru Tuhan membiarkan terjadi macam-macam problem dan kesukaran itu untuk memisahkan gandum dan sekam, yang setia dan yang tidak setia Mat 3:12. Meskipun dalam keadaan yang sulit dan mustahil, kita tetap harus setia seperti Firman Tuhan dan justru dengan demikian kesetiaan kita itu lulus ujian, bukan setia seperti sekam tetapi seperti gandum. Sekalipun kita ditinggalkan sendirian dan tidak ada seorangpun menyertai kita, Allah tetap ada dan tetap menyertai.

Yusuf dijual sebagai budak dan sendirian di mana-mana, tidak ada yang menolongnya, tetapi tetap taat pada Firman Tuhan dan Tuhan tetap menyertai Yusuf. Sebab itu ia selalu setia dalam keadaan apapun juga, dalam keadaan yang pahit dan celaka, Tuhan selalu ada dan menguatkan.

Jangan takut menghadapi segala guncangan dan ujian, dan Tuhan tetap akan menyertai kita sebab justru dalam kesukaran akan tampak mutu setia yang baik dan teruji yaitu seperti gandum.

Setia waktu kecil dan waktu besar. Kalau kita berjalan dengan betul, seringkali untuk menjadi terkenal, dipakai Tuhan dengan heran, jadi kaya dan berkedudukan biasanya itu membutuhkan waktu yang panjang untuk naik sampai di atas, baik secara rohani dan secara jasmani. Jangan menghalalkan segala cara untuk jalan pintas supaya cepat naik dan sampai di atas, sebab justru dalam perjalanan itu kita diolah dan dibentuk oleh Tuhan Yes 64:8. Pengolahan dan pembentukan itu butuh waktu yang cukup lama supaya tabiat, pengertian, kekuatan  serta ketaatan kita dalam semua segi hidup cukup diolah, dibentuk dan diuji; maka waktu Tuhan mengangkat kita makin tinggi, kita bisa makin mencintai Tuhan dan tidak jatuh dalam dosa di segi manapun. Jangan ingin naik dengan instan nanti jatuhnya dahsyat seperti Absalom yang mau naik instan akhirnya jatuh sebab sombong. Allah ingin kita tetap setia sampai mati, tidak jatuh dalam dosa pada akhirnya, lalu masuk Neraka! Sebab itu jangan paksakan naik dalam hal jasmani atau rohani.

Putra Manusia Yesus umur 12 tahun sudah bisa naik tinggi tetapi dilarang Bapa-Nya keluar, Ia harus menunggu sampai umur 30 tahun.

Daud belasan tahun di padang menjaga domba sudah indah (bisa mengalahkan singa dan beruang dengan Tuhan) tetapi belum diangkat sampai puncaknya. Waktu disuruh bapanya mengantar makanan ia membuat kemenangan yang besar, peristiwa itu tidak dipaksakan, bukan jalan pintas, itu memang dari Tuhan.

Ada anak umur kurang lebih 9 tahun bisa kotbah dengan bagus, lalu diorbitkan ke mana-mana, bahayanya kalau jatuh, bisa-bisa tidak bangun kembali. Biarkan ia dalam sikon sederhana dan kecil untuk pengolahan. Kalau sudah waktunya Tuhan sendiri yang buka jalan dan ia bisa naik dengan Tuhan sehingga tahan, setia sampai mati tidak jatuh. Jangan cari bypass, jalan pintas. Tetapi belajar berjalan dengan Tuhan, terus mencintai Firman Tuhan dan taat seperti Putra Manusia Yesus yan meskipun luar biasa dalam umur 12 tahun, tetap taat menurut perintah ibu bapa-Nya, yaitu orang-orang kecil yang tidak ada keistimewaan khusus secara jasmani Luk 2:51,52. Umur tua atau sudah lama ikut Tuhan belum tentu berarti indah, tetapi taat dalam pengolahan itu penting dan jangan mengangkat diri sendiri atau mencari jalan pintas untuk mahsyur Yoh 7:4. Melainkan belajar terus mengerti Firman Tuhan, dipimpin Roh untuk betul-betul memperkenankan Tuhan. Kalau sudah cukup diolah, dan sampai waktunya, sekalipun dari kandang domba, Tuhan bisa mengangkatnya seperti Daud 2Sam 7:8 atau dari dalam penjarapun Tuhan bisa menariknya ke atas seperti Yusuf Kej 41:14.

Cara yang wajar (tidak dipaksakan), bukan bypass, itu yang terbaik sebab mengandung pengolahan yang cukup menurut ukuran Allah. Kalau sudah sampai waktunya, Tuhan sendiri yang akan menarik ke tempat yang lebih tinggi, seringkali disini ada kelimpahan hormat, puji, kuasa, uang dan lain-lain, tetapi ia bisa tetap memperkenankan Allah lebih dari semuanya (sebab sudah diolah) sehingga bisa setia sampai mati, yaitu waktu mati ada di puncak yang tertinggi, bahkan ada yang masuk dalam kesempurnaan. Jangan paksakan tetapi berjalanlah dengan Allah!

III. SETIA ATAU PENGKHIANAT

1.      DALAM PERNIKAHAN. Hubungan suami istri itu adalah lembaga kesetiaan Mat 19:5-6 bukan karena uang, pintar, kedudukan, wajah dan lain-lain, meskipun pernikahan ini hanya di dunia, tetapi harus dipelihara dan harus setia sampai mati.
Suami yang tidak setia akhirnya menjadi pengkhianat, hanya menuruti kesukaan daging sendiri dan meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam kepahitan sebab suami mengkhianati janji setia sampai mati.
Juga istri yang tidak setia akan menjadi pengkhianat. Kadang-kadang suami sakit fatal atau bangkrut, tetapi belum mati sudah ditinggalkan istri pengkhianat.  Sebaliknya suami menjadi kekasih yang dicintai istrinya dan jadi kebanggaan anak-anaknya, tahu-tahu lenyap mengkhianati. Orang yang tidak setia itu menjadi pengkhianat.
Orang-orang seperti ini juga dinilai tidak setia di hadapan Allah. Harus setia sampai mati dalam pernikahan, sekalipun di banyak negara yang maju kesetiaan sampai mati ini diolokkan, dianggap aneh kalau bisa tahan di atas 10-20 tahun. Memang ukuran dunia, daging itu bertentangan dengan penilaian Tuhan Fil 3:19. Suami istri yang tidak setia berpisah atau cerai itu seperti mati di hadapan Tuhan sebab kepala dipotong dari badannya Ef 5:23. Orang seperti ini bisa bertobat Mat 12:20 tetapi sudah cacat. Jadi setia menurut Firman Tuhan itu termasuk setia pada suami atau istri dan anak-anak.

2.      DALAM KELUARGA. Anak-anak kurang ajar pada orang tua itu berarti anak yang tidak setia, dihukum Tuhan Ef 6:1-3. Meskipun orang tua ada salah (apalagi kalau tidak salah) anak-anak harus mengampuni dan tetap setia menghormati orang tuanya selagi masih hidup. Sesudah anak-anak dewasa, mereka makin berarti bahkan dalam masyarakat bisa lebih berarti dari orang tuanya, tetapi tetap hormat pada orang tua, baik dalam kata-kata, perbuatan dan sampai dalam hati itu diperkenan dan diberkati Tuhan. In juga setia di hadapan Tuhan.

3.      DALAM GEREJA. Gereja itu bukan sebagai restoran atau mall, tetapi banyak orang menganggap seperti itu, sebab itu setiap kali ia mau beribadah, tinggal memilih mau ke mana.
Gereja itu seperti rumah Bapa-bapa Bil 1:2, 1Kor 4:15 dan sebagai anggota Gereja, kita harus setia.
Memang setiap orang bebas memilih ke Gereja yang mana dan sesudah yakin (bertanya-tanya pada Tuhan, berdoa, di Gereja mana ia yakin ditempatkan oleh Tuhan 1Kor 12:18, yaitu Gereja yang sesuai dengan Firman Tuhan) maka orang itu harus menentukan kandangnya dan menetap serta setia di sana.
Memang masih banyak orang belum bisa memilih Gereja yang tepat, sebab itu tergantung dari tingkat rohani dan pengertiannya, sebab masing-masing memilih Gereja menurut ukuran atau patokannya masing-masing, ada yang betul ada yang salah, ada juga yang ikut-ikutan saja dengan orang-orang lain.
Gereja itu juga seperti kandang domba dengan gembala tertentu yang bertanggung jawab atas domba-domba yang tertentu Ibr 13:17. Kalau ada domba yang tidak pulang, terhilang, gembala harus mencarinya Luk 15:4-6. Domba-domba juga harus mengenal suara gembala dan gembala mengenal domba-dombanya dan bertanggung jawab akan keselamatannya Yoh 10:3-5, 14-15. Sebab itu baik gembala maupun dombanya harus setia dalam Gereja supaya keselamatan domba-domba terpelihara dan tumbuh serta berkembang biak.Prinsip Gereja untuk orang beriman bukan untuk mencari kesukaan seperti tempat rekerasi, tetapi tempat beribadah kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama dalam bait Allah itu ada mezbah dan kita mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup kepada Allah di atas Mezbah Allah Rom 12:1-2. Kita harus setia beribadah kepada Allah dan mempersembahkan korban di atas mezbah, yaitu kita mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup kepada Allah Rom 12:1-2. Kita haurs setia beribadah kepada Allah dan mempersembahkan korban di atas mezbahnya. Dalam Gereja, dengan kelimpahan Firman Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus kita dididik supaya bisa hidup berkenan kepada Tuhan sehingga keselamatan tetap terpelihara Flp 2:12 bahkan bisa menjadi mulia di Surga.
Kita harus setia beribadah dan menjadi anggota Gereja yang setia sehingga cukup diajar menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan seperti Putra manusia Yesus Mat 3:17; 17:5. Ibadah harus membuat kita makin mahir pikul salib, taat akan Firman Tuhan, melakukan kehendak-Nya, menjadi saksi yang betul, makin berbuah-buah dan makin seperti Kristus. Gereja bukan tempat rekreasi atau tempat menuruti kesukaan daging tetapi kita bersukacita karena bisa memperkenankan Tuhan. Orang-orang Israel bersukacita dengan Gereja Yerobeam, yang dalam ibadahnya  membuat orang senang dan puas tetapi melawan Firman Tuhan sebab menyembah mammon dan menuruti tabiat daging dalam jalan lebar 1Raj 12:25-31. Kalau Gereja sesat seperti Gereja Yerobeam, tidak perlu setia, justru harus keluar 2Taw 11:13-16, kecuali ditugaskan Tuhan seperti Elia, Elisa untuk menobatkan kerajaan Israel yang sesat ini.
Jangan pindah-pindah Gereja dan tidak setia hanya karena mencari kesenangan daging atau karena problem-problem pribadi atau hal-hal yang bukan prinsip, sebab di mana-mana kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang belum sempurna, yang membuat problem, sehingga timbul lagi problem. Meskipun ada banyak problem, belajar tetap setia. Dengan demikian kita diolah dalam segala perkara, dengan saling mengampuni dan melayani, kita tumbuh bersama-sama.
Kita harus setia dalam Gereja masing-masing, setia dalam perkara-perkara besar dan juga yang kecil Mat 25:21. Bertahan tetap setia dan berkenan kepada Tuhan sekalipun ada hal yang tidak enak untuk daging, itu menjadi pengolahan dan kita akan tumbuh makin indah di hadapan Tuhan. Orang yang dalam setiap kesukaran, problem langsung lari, tidak bisa setia dan tidak bisa tumbuh di hadapan Tuhan. Justru kalau di dalam problem, kita tinggal setia dalam kesucian dan dipimpin Roh, tidak bereaksi dosa dalam segala problem dan persoalan, maka kita akan tumbuh makin indah.
Kita harus setia kepada Tuhan, kepada Gereja, yaitu tetap hidup dalam kesucian di jalan sempit, tetap melakukan kehendak Tuhan sekalipun ada banyak guncangan dan kesukaran, sebab Tuhan mengizinkan guncangan-guncangan ini, supaya tampak mana yang setia dan yang tidak setia diantara umat Tuhan 1Kor 11:19. Juga kalau timbul problem dan kesukaran di antara umat Tuhan satu sama lain, ini menjadi saringan supaya akhirnya tampak mana yang setia mentaati Firman Tuhan dan mana yang tidak setia.
Dalam Gereja ada segala tingkatan rohani dari umat Tuhan, ada yang tingkat Halaman yang masih kasar dan penuh kedagingan, ada yang hidup dalam kesucian dan dipimpin Roh, biasanya segala macam tingkatan ini ada dalam Gereja, bahkan juga pelayan Tuhan, ada yang baru mentas dari dosa, seperti anak terhilang dan dari mutu yang rendah Maz 40:3, tetapi dalam persekutuan kita harus tolong menolong, saling mengampuni, menguatkan dan menumbuhkan, melayani dan mengasihi sehingga semua boleh makin disucikan dan tumbuh bersama-sama dengan setia. Jangan mudah hilang kesetiaannya. Kita harus setia kepada Tuhan dan kepada Gerejanya sesuai dengan Firman Tuhan.
Orang yang tidak setia menjadi pengkhianat seperti Yudas dan pada akhir zaman akan masuk dalam golongan Antikris, ini golongan yang berkhianat, yaitu orang-orang yang pernah ikut Tuhan tetapi kemudian keluar dari antara kita 1Yoh 2:19. Tetapi mereka yang setia akan tumbuh dalam kesucian, kasih (bukan dalam kebencian atau dosa-dosa lain) dan penuh dengan Roh Kudus sehingga akhirnya ikut dalam pengangkatan sebagai ligabis (= Lima Gadis Bijaksana).

KESIMPULAN

Hamba yang setiawan akan masuk dalam kesukaan Tuannya untuk kekal, baik yang hanya mempunyai sedikit talenta atau banyak. Tuhan tidak hanya melihat jumlah talentanya saja tetapi lebih dari itu kesetiaannya. Dunia melihat kemampuan dan prestasinya, sekalipun tidak setia tetap dihargai. Tetapi Tuhan lebih mengutamakan kesetiaannya lebih dari prestasi atau jumlah talenta-talentanya, sebab semua talenta-talenta itu dari Tuhan. Memang kalau seorang punya talenta lebih banyak, itu lebih banyak memajukan pekerjaan Tuhan, tetapi jangan itu saja yang diutamakan, sebab tanpa kesetiaan semua akan sia-sia dan ditolak Tuhan Mat 7:23. Sebab itu dasar dari semuanya adalah apakah kita menyenangkan Tuhan, bukan apakah Tuhan menyenangkan kita. Seringkali yang dituntut orang-orang beriman ialah supaya Tuhan makin menyenangkan hatinya dengan segala berkat dan kelimpahan yang fana, padahal kalau kita makin menyenangkan Tuhan, yaitu taat akan Firman Tuhan dalam segala segi dalam pimpinan Roh Kudus, maka kita akan puas dalam hadirat-Nya, sebab menyenangkan Tuhan, itu ukuran yang betul Kis 13:22. Dan segala fasilitas juga akan ditambahkan Mat 6:33.

Belajar setia sekalipun keadaan tidak enak, tetap menyenangkan Tuhan, maka Tuhan akan menyediakan cukup fasilitas yang kita perlukan dengan aman sebab orang yang menyenangkan Tuhan dalam keadaan apapun tidak akan terganggu oleh fasilitas yang fana biarpun limpah.

Kita meniru seperti Kristus yang menderita sampai mati tetapi tetap setia, tetap menyenangkan Tuhan, hampir-hampir tidak ada yang menyenangkan dirinya sendiri, bahkan doa-Nya pun ditolak oleh Bapa Mat 26:39 dan Ia tetap setia melakukan kehendak Allah.

Nyanyian

Tuhan ku mau menyenangkan-Mu (Beracha No. 597)